Blogger Widgets ADE COPA GABANA PARFUM PARIS MODE

Rabu, 14 November 2012

JUDUL KARYA ILMIAH KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN (KTI)

JUDUL KARYA ILMIAH KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN 


1. PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI HEPATITIS B DI POSYANDU …………  TAHUN 2004
2. TINJAUAN PENATALAKSANAAN KEJANG DEMAM DI RUANG ANAK RUMAH SAKIT UMUM ………………… TAHUN 2004
3. GAMBARAN PENGETAHUAN TENAGA KESEHATAN TENTANG PAPSMEAR DI USKESMAS ……………… KECAMATAN ………………….. TAHUN 2004
4. GAMBARAN MOBILISASI DINI PADA IBU POST PARTUM DENGAN TINDAKAN OPERASI SEKSIO SESAREA TERHADAP PENGELUARAN LOCHEA DAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA OPERASI DI RSU. ……………………… TAHUN 2004
5. TINJAUAN EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI PADA AKSEPTOR KB PIL DI ………………………….
6. PENGETAHUAN PASANGAN USIA SUBUR TENTANG KONTRASEPSI VASEKTOMI DI LINGKUNGAN II KELURAHAN …………… KECAMATAN …………….
7. PENGETAHUAN IBU TENTANG PENGGANTI AIR SUSU IBU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………………… TAHUN 2004
8. PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS PELAKSANA PENANGANAN PENDERITA NAPZA TENTANG PENATALAKSANAAN NAPZA DI PANTI REHABILITASI …………… TAHUN 2004
9. DETERMINAN PEMBERIAN KONSUMSI BUAH SEGAR PADA BALITA DI POSYANDU ………………….
10. KECEMASAN PASANGAN SUAMI ISTRI DENGAN INFERTIL PRIMER DI RUMAH BERSALIN …………………..
11. PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI NIFAS DI RUANG KEBIDANAN RSU . …………………… TAHUN ………….
12. PENGETAHUAN DAN SIKAP AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING PIL ORAL KOMBINASI (POK) DI KELURAHAN …………………. TAHUN 2004
13. GAMBARAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DEPOPROVERA DI …………………… KECAMATAN ………………… TAHUN 2004
14. GAMBARAN PERSYARATAN MINIMAL FASILITAS PELAYANAN AKDR DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS ………………… KECAMATAN …………………. KABUPATEN …………….
15. KARAKTERISTIK EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DI DESA ……………… KECAMATAN ……………….. KABUPATEN ………………… TAHUN 2004
16. PENGETAHUAN IBU TENTANG ABORTUS INCOMPLETUS DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM ……………………….. TAHUN 2004
17. TINJAUAN PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) KOLOSTRUM PADA IBU POST SECTIO CAESAREA DI RUANG KEBIDANAN RSU …………………….. TAHUN 2004
18. GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN TENTANG MANAJEMEN AKTIF KALA III DI RSUD. …………………….. TAHUN 2004
19. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN AKSEPTOR BARU KELUARGA BERENCANA ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI PUSKESMAS …………………..
20. PENGETAHUAN DAN SIKAP DUKUN TERLATIH DALAM MENOLONG PERSALINAN DI WILAYAH PUSKESMAS ……………… KECAMATAN …………….. KABUPATEN ………………
21. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG KEHAMILAN DI BPS ………………. TAHUN 2004
22. FAKTOR-FAKTOR ALASAN IBU MENGGANTI KONTRASEPSI PIL DENGAN KONTRASEPSI SUNTIK DI PUSKESMAS ……………….. TAHUN 2004
23. GAMBARAN FAKTOR PENYEBAB AKSEPTOR TIDAK MELANJUTKAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI IUD DI RB …………………… TAHUN 2004
24. PENGETAHUAN IBU BERSALIN TENTANG RAWAT GABUNG DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM …………………….. TAHUN 2004
25. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MENYUSUI DALAM MEMBERIKAN MAKANAN PENDAMPING ASI TERLALU DINI DI DESA ………………… TAHUN 2004
26. KARAKTERISTIK KANKER SERVIKS DI RUANG KEBIDANAN RSUD ………………..
27. TINJAUAN PENYEBAB DILAKUKANNYA CURETTAGE DI RUMAH SAKIT UMUM ……………… TAHUN 2003
28. PENGETAHUAN TENTANG ISPA PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA SAKIT ISPA YANG BEROBAT KE PUSKESMAS ………….
29. TINJAUAN PELAKSANAAN KEGIATAN PONDOK SAYANG IBU (PSI) DI DESA BADAK WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………..
30. PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN BIDAN TENTANG MANAJEMEN AKTIF KALA III DI WILAYAH PUSKESMAS……………………..
31. DETERMINAN PEMANFAATAN TENAGA BIDAN DESA DALAM PERTOLONGAN PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………..
32. PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG GEJALA-GEJALA FISIK MENOPAUSE DI KELURAHAN …………………..
33. PENGETAHUAN PASANGAN USIA SUBUR TENTANG KONTRASEPSI VASEKTOMI DI LINGKUNGAN II KELURAHAN ………………..
34. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI SMP ………………. TAHUN 2004
35. DETERMINAN IBU TIDAK MENIMBANGKAN BALITANYA DI POSYANDU MELATI KELURAHAN …………………
36. GAMBARAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A DI KELURAHAN ……………….. WILAYAH KERJA PUSKESMAS ………………. TAHUN 2004
37. PENGETAHUAN IBU TENTANG STIMULASI PADA BAYI USIA 0 – 12 BULAN DI KELURAHAN …………… WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………….
38. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU POST SEKSIO SESAREA TENTANG MOBILISASI DINI DI RUMAH BERSALIN ……………. TAHUN 2004
39. STUDI TENTANG MOTIVASI MAHASISWI MEMILIH PROFESI BIDAN DI PROGRAM STUDI KEBIDANAN ………………. TAHUN 2003 – 2004
40. KARAKTERISTIK IBU YANG MENYAPIH BAYI DI BAWAH USIA 1 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………. TAHUN 2004
41. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS PRANIKAH DI SMU …………….
42. PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG ANEMIA PADA KEHAMILAN DI PUSKESMAS ………………..
43. SIKAP IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL DI PUSKESMAS ………………. KECAMATAN………………. TIMUR 2004
44. PELAKSANAAN RESUSITASI PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN ASFIKSIA OLEH TENAGA KESEHATAN DI RUMAH BERSALIN ……………….
45. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG MASA NIFAS DI RUMAH BERSALIN ………………… TAHUN 2004
46. PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMU TENTANG SEKSUALITAS PADA REMAJA DI SMU …………………..
47. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU-IBU USIA 45 – 55 TAHUN TENTANG MENOPAUSE DI DESA ………………. TAHUN 2004
48. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA AWAL TENTANG PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA PUBERTAS DI SLTPN ……………………..
49. PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM ………………….
50. PENGETAHUAN SISWA KELAS II SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI ………….. MENGENAI BAHAYA ROKOK TAHUN 2006
51. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP TANDA-TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI PUSKESMAS …………………. TAHUN 2006
52. PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT USIA 15 – 39 TAHUN MENGENAI MITOS, DISKRIMINASI DAN STIGMASI TERHADAP HIV/ AIDS DI ………………. TAHUN 2006
53. PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ABORSI PADA SISWI KELAS II SMA ……………TAHUN 2006
54. PENGETAHUAN TENTANG GANGGUAN MENSTRUASI DAN PENATALAKSANAANNYA PADA REMAJA PUTRI KELAS II DI ……………… TAHUN 2006
55. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………..
56. GAMBARAN IBU HAMIL DENGAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………… TAHUN 2006
57. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIS PALSU DI BPS …………… TAHUN 2006
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MULTIPARA TENTANG KONTRASEPSI AKDR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………… TAHUN 2006
58. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA WANITA KELAS II TENTANG DIET SEIMBANG DI ……………..
59. GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL DI PUSKESMAS ………………….. TAHUN 2006
60. PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III OLEH BIDAN DI PUSKESMAS ……………
61. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BALITA TENTANG PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A DI PUSKESMAS ……………… TAHUN 2006
62. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG BAHAYA SEKS BEBAS DI SMA ……………. TAHUN 2006
63. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG DAMPAK KEHAMILAN REMAJA DI SMA …………………….. TAHUN 2006
64. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG PERKEMBANGAN ORGAN SEKS SEKUNDER PADA MASA PUBERTAS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI …………………….. TAHUN 2006
65. DETERMINAN TIDAK DILAKUKANNYA DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA MELALUI PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) OLEH REMAJA PUTRI KELAS II DI …………………….. TAHUN 2006
66. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG TEHNIK MENGEJAN YANG BENAR SAAT PERSALINAN DI BPS …………………….. TAHUN 2006
67. KARAKTERISTIK KELUARGA DENGAN BALITA BERAT BADAN DI BAWAH GARIS MERAH (BGM) DI DESA …………………….. TAHUN 2006
68. TINJAUAN PENATALAKSANAAN GIZI BURUK PADA BALITA OLEH TENAGA KESEHATAN DI …………………….. TAHUN 2006
69. PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI DIBAWAH UMUR 6 BULAN DI DESA …………………….. TAHUN 2006
70. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI PADA SISWI KELAS II SMP ……………………..
71. PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B1 SEGERA SETELAH LAHIR DI RUMAH BERSALIN …………………….. PERIODE FEBRUARI – APRIL TAHUN 2006.
72. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI ANAK PERTAMA TENTANG ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………………..
73. KARAKTERISTIK SUAMI DENGAN IBU MENYUSUI DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2006
74. ALASAN IBU MELAKUKAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI POSYANDU ……………………..
75. GAMBARAN TEKNIK MENYUSUI MINGGU PERTAMA PADA IBU PRIMIPARA DI BIDAN PRAKTEK SWASTA …………………….. TAHUN 2006
76. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KUNJUNGAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN DI BPS …………………….. TAHUN 2006
77. PEMANTAUAN PERKEMBANGAN BALITA DI POSYANDU SEJAHTERA V WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………………..
78. GAMBARAN PERTUMBUHAN BALITA DI POSYANDU DESA MUARA GADING MASWILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2006
79. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN SENAM HAMIL DI BPS CH. SUDILAH KECAMATAN METRO BARAT KOTA METRO TAHUN 2006
80. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEPUTIHAN FISIOLOGIS DAN KEPUTIHAN PATOLOGIS DI MADRASAH ALIYAH NEGERI …………………….. 2006
81. DETERMINAN IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN IMUNISASI TETANUS TOKSOID ( TT ) LENGKAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………………..
82. KETERAMPILAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK MAHASISWI TINGKAT II PROGRAM STUDI KEBIDANAN …………………….. DI LAHAN PRAKTEK TAHUN 2006
83. PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR DI BIDAN PRAKTEK SWASTA (BPS) …………………….. TAHUN 2006
84. PENGETAHUAN IBU MENGENAI KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DI PUSKESMAS ……………………..
85. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA PRAMENOPAUSE TENTANG OSTEOPOROSIS DI DESA …………………….. TAHUN 2006
86. PENGETAHUAN MAHASISWA TINGKAT II TENTANG PARTOGRAF DI PRODI KEBIDANAN …………………….. TAHUN 2007
87. PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MOTORIK PADA BALITA USIA 3-5 TAHUN DI POSYANDU ……………………..
88. GAMBARAN PENATALAKSANAAN PERAWATN BAYI PREMATUR OLEH TENAGA KESEHATAN DI RUANG ANAK RSU …………………….. TAHUN 2007
89. PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG STATUS GIZI PADA BALITA DI KELURAHAN …………………….. TAHUN 2007
90. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA PENGGUNAAN IMPLANT DI KELURAHAN …………………….. TAHUN 2006
91. PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG TANDA-TANDA PERSALINAN SEMU DI KLINIK …………………….. TAHUN 2007
92. GAMBARAN SIKAP DAN TINDAKAN AKSEPTOR KB DALAM MENGATASI EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI SUNTIKAN (INJECTABLES) DI BPS …………………….. TAHUN 2007
93. PERILAKU REMAJA PUTRI DALAM MENANGANI KEPUTIHAN DI SEKOLAH MENENGAH UMUM NEGERI …………………….. TAHUN 2007
94. GAMBARAN PERILAKU IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN ASI PADA SATU HARI PERTAMA DI RB …………………….. TAHUN 2007
95. PENGETAHUAN DUKUN TERLATIH TENTANG TIGA BERSIH DALAM PERTOLONGAN PERSALINAN DI DESA …………………….. TAHUN 2007
96. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI SELAMA LAKTASI DI KELURAHAN …………………….. TAHUN 2007
97. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA MASTITIS PADA IBU POSTPARTUM DI BPS …………………….. TAHUN 2007
98. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN ANEMIA DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
99. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIDAK TERATURNYA SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWA TINGKAT IIB PROGRAM STUDI KEBIDANAN …………………….. TAHUN 2007
100. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG MANAJEMEN LAKTASI PADA PERIODE POSTNATAL DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK …………………….. TAHUN 2007
101. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA KEIKUTSERTAAN SUAMI MENJADI AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA (KB) DI DESA ……………………..
102. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERAT BADAN IBU HAMIL DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
103. PENATALAKSANAAN PIJAT BAYI OLEH DUKUN PIJAT BAYI PADA BAYI USIA 3-7 BULAN DI DESA …………………….. TAHUN 2007
104. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA PRE MENSTRUAL SYNDROM (PMS) PADA WANITA USIA 25-35 TAHUN DI KAMPUNG …………………….. WILAYAH PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
105. KARAKTERISTIK IBU DENGAN PERDARAHAN POST PARTUM DI RUANG KEBIDANAN RSUD …………………….. TAHUN 2006
106. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB ……………………..
107. HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
108. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL YANG KE-EMPAT (K4) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2006
109. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETUBAN PECAH DINI DI RUANG KEBIDANAN RSUD …………………….. TAHUN 2006
110. GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN EKSTRAKSI VAKUM DI RSUD. …………………….. TAHUN 2006.
111. GAMBARAN AKTIVITAS SEKSUAL WANITA MENOPAUSE DI DESA …………………….. TAHUN 2007
112. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III OLEH BIDAN DI RUANG BERSALIN RSUD …………………….. TAHUN 2007
113. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB GANGGUAN PEMBERIAN ASI PADA IBU DI DESA …………………….. TAHUN 2007
114. GAMBARAN PENATALAKSANAAN PRE-OPERASI SEKSIO SESAREA DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM …………………….. TAHUN 2007
115. GAMBARAN PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK MENGIKUTI KELUARGA BERENCANA DI KELURAHAN …………………….. TAHUN 2006
116. PENGETAHUAN BIDAN TENTANG PENANGGULANGAN NYERI PERSALINAN NON FARMAKOLOGIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
117. PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA KELAS I SMP TENTANG PUBERTAS DI SMP …………………….. TAHUN 2007
118. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG MELAHIRKAN DI BIDAN DI DESA ……………………..
119. KARAKTERISTIK KEJANG DEMAM PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM …………………….. TAHUN 2007
120. TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KIA OLEH BIDAN DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
121. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA KONSUMSI TABLET FE PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
122. PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN DALAM PENATALAKSANAAN MANAJEMEN RUJUKAN PADA IBU BERSALIN DENGAN KELAINAN OBSTETRI DI WILAYAH PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
123. FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA AKSEPTOR IUD DI DESA …………………….. TAHUN 2007
124. GAMBARAN PENATALAKSANAAN PEMBERIAN ASI PADA IBU SEKSIO SESARIA DI RSU. …………………….. TAHUN 2007
125. GAMBARAN PERAN SERTA KADER DALAM KEGIATAN POSYANDU DI KAMPUNG …………………….. WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
126. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG DAMPAK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN DI DESA …………………….. WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
127. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER PAYUDARA DI SMA NEGERI …………………….. TAHUN 2007
128. FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA PENGETAHUAN REMAJA AWAL TENTANG PENDIDIKAN SEKS DI SMP …………………….. TAHUN 2007
129. GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA KLIMAKTERIUM TENTANG MENOPAUSE DI …………………….. TAHUN 2007
130. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KUNJUNGAN NEONATAL DI BPS …………………….. TAHUN 2007
131. GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE EKLAMPSI DAN EKLAMPSI DI RUANG KEBIDANAN RSUD …………………….. TAHUN 2006
132. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA KUNJUNGAN BALITA DI POSYANDU ……………………..
133. GAMBARAN PUSKESMAS MAMPU PELAYANAN OBSTETRI DAN NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) DI PUSKESMAS ……………………..
134. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI KURANG DARI 6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
135. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PERDARAHAN ANTEPARTUM DI …………………….. TAHUN 2007
136. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG TEKNIK PRENATAL BREASTCARE, POSTNATAL BREASTCARE DAN TEKNIK MENYUSUI DI RB …………………….. TAHUN 2007
137. KECEMASAN TERHADAP PERUBAHAN FISIK WANITA USIA 45-55 TAHUN DALAM MENGHADAPI MENOPAUSE DI …………………….. TAHUN 2007
138. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN HIPEREMISIS GRAVIDARUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
139. FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB PETUGAS KESEHATAN TIDAK MELAKUKAN PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
140. GAMBARAN PENGETAHUAN PASANGAN INFERTIL TENTANG INFERTILITAS DI DESA ……………………..
141. TINJAUAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT NON PNEMONIA PADA BALITA USIA 2 BULAN – 5 TAHUN DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
142. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KURANGNYA AKSEPTOR KB KONDOM DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
143. PENGETAHUAN SISWA KELAS II SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 NATAR MENGENAI BAHAYA ROKOK TAHUN 2006
144. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP TANDA-TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI PUSKESMAS METRO TAHUN 2006
145. PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT USIA 15 – 39 TAHUN MENGENAI MITOS, DISKRIMINASI DAN STIGMASI TERHADAP HIV/ AIDS DI LINGKUNGAN V WILAYAH 15 B TIMUR KELURAHAN IMOPURO METRO TAHUN 2006
146. PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ABORSI PADA SISWI KELAS II SMA KARTIKATAMA METRO TAHUN 2006
147. PENGETAHUAN TENTANG GANGGUAN MENSTRUASI DAN PENATALAKSANAANNYA PADA REMAJA PUTRI KELAS II DI MADRASAH ALIYAH NEGERI I METRO TAHUN 2006
148. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA
149. GAMBARAN IBU HAMIL DENGAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA TAHUN 2006
150. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIS PALSU DI BPS MARTHA KOTA GAJAH LAMPUNG TENGAH TAHUN 2006
151. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MULTIPARA TENTANG KONTRASEPSI AKDR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA TAHUN 2006
152. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA WANITA KELAS II TENTANG DIET SEIMBANG DI MAN 2 METRO
153. GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL DI PUSKESMAS PEKALONGAN KECAMATAN PEKALONGAN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
154. PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III OLEH BIDAN DI PUSKESMAS WAY URANG KECAMATAN KALIANDA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
155. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BALITA TENTANG PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A DI PUSKESMAS METRO TAHUN 2006
156. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG BAHAYA SEKS BEBAS DI SMA TELADAN METRO TAHUN 2006
157. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG DAMPAK KEHAMILAN REMAJA DI SMA KARTIKATAMA METRO TAHUN 2006
158. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG PERKEMBANGAN ORGAN SEKS SEKUNDER PADA MASA PUBERTAS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 4 METRO TAHUN 2006
159. DETERMINAN TIDAK DILAKUKANNYA DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA MELALUI PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) OLEH REMAJA PUTRI KELAS II DI MAN 2 METRO TAHUN 2006
160. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG TEHNIK MENGEJAN YANG BENAR SAAT PERSALINAN DI BPS SUKATMI PEKALONGAN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
161. KARAKTERISTIK KELUARGA DENGAN BALITA BERAT BADAN DI BAWAH GARIS MERAH (BGM) DI DESA MUARA GADING MAS KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
162. TINJAUAN PENATALAKSANAAN GIZI BURUK PADA BALITA OLEH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS SUKARAJA NUBAN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
163. PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI DIBAWAH UMUR 6 BULAN DI DESA MUARA GADING MAS KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
164. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI PADA SISWI KELAS II SMP NEGERI 3 METRO
165. PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B1 SEGERA SETELAH LAHIR DI RUMAH BERSALIN DO’A IBU PURBOLINGGO PERIODE FEBRUARI – APRIL TAHUN 2006.
166. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI ANAK PERTAMA TENTANG ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS METRO
167. KARAKTERISTIK SUAMI DENGAN IBU MENYUSUI DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS METRO KECAMATAN METRO PUSAT KOTA METRO TAHUN 2006
168. ALASAN IBU MELAKUKAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI POSYANDU BINTANG SEMBILAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS PALAPA TANJUNG KARANG PUSAT
169. GAMBARAN TEKNIK MENYUSUI MINGGU PERTAMA PADA IBU PRIMIPARA DI BIDAN PRAKTEK SWASTA A GANJAR AGUNG KECAMATAN METRO BARAT TAHUN 2006
170. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KUNJUNGAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN DI BPS SUWARNI SUKARAJA NUBAN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
171. PEMANTAUAN PERKEMBANGAN BALITA DI POSYANDU SEJAHTERA V WILAYAH KERJA PUSKESMAS IRING MULYO KELURAHAN IRINGMULYO METRO TIMUR
172. GAMBARAN PERTUMBUHAN BALITA DI POSYANDU DESA MUARA GADING MASWILAYAH KERJA PUSKESMAS LABUHAN MARINGGAI TAHUN 2006
173. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN SENAM HAMIL DI BPS CH. SUDILAH KECAMATAN METRO BARAT KOTA METRO TAHUN 2006
174. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEPUTIHAN FISIOLOGIS DAN KEPUTIHAN PATOLOGIS DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 METRO TAHUN 2006
175. DETERMINAN IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN IMUNISASI TETANUS TOKSOID ( TT ) LENGKAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS YOSOMULYO KECAMATAN METRO PUSAT
176. KETERAMPILAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK MAHASISWI TINGKAT II PROGRAM STUDI KEBIDANAN METRO DI LAHAN PRAKTEK TAHUN 2006
177. PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR DI BIDAN PRAKTEK SWASTA (BPS) JUNAIRAH KALIANDA LAMPUNG SELATAN TAHUN 2006
178. PENGETAHUAN IBU MENGENAI KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DI PUSKESMAS IRING MULYO METRO TIMUR
179. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA PRAMENOPAUSE TENTANG OSTEOPOROSIS DI DESA TAMAN BOGO KECAMATAN PURBOLINGGO KABUPATEN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006

Kesehatan Reproduksi Remaja Sangat Penting

Mengapa Kesehatan Reproduksi Remaja Sangat Penting?


Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis.

Di negera-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah (Kiragu, 1995:10, dikutip dari Iskandar, 1997).

Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar, 1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena

kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.

Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri yang berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain adalah kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), ke-kerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan. Risiko ini dipe-ngaruhi oleh berbagai faktor yang saling

berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup.

Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki (FCI, 2000). Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid

pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan dan persalinan dini (Hanum, 1997:2-3).

Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru adalah akibat

ketidak-harmonisan hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak/remaja tentang fungsi/proses reproduksi dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak (child physical abuse).

Mereka cenderung merasa risih dan tidak mampu untuk memberikan informasi yang memadai mengenai alat reproduksi dan proses reproduksi tersebut. Karenanya, mudah timbul rasa takut di kalangan orangtua dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya justru malah mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah (Iskandar, 1997).

Kondisi lingkungan sekolah, pengaruh teman, ketidaksiapan guru untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi, dan kondisi tindak kekerasan sekitar rumah tempat tinggal juga berpengaruh (O’Keefe, 1997: 368-376).

Remaja yang tidak mempu-nyai tempat tinggal tetap dan tidak mendapatkan perlin-dungan dan kasih sayang orang tua, memiliki lebih banyak lagi faktor-faktor yang berkontribusi, seperti: rasa kekuatiran dan ketakutan yang terus menerus, paparan ancaman sesama remaja jalanan, pemerasan, penganiayaan serta tindak kekerasan lainnya, pelecehan seksual dan perkosaan (Kipke et al., 1997:360-367). Para remaja ini berisiko terpapar pengaruh lingkungan yang tidak sehat, termasuk penyalahgunaan obat, minuman

beralkohol, tindakan kriminalitas, serta prostitusi (Iskandar, 1997).

Pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja

Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal (Pachauri, 1997).

Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan pelayanan yang bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan atau tertular ISR/PMS. Hingga saat ini, informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual (Iskandar, 1997).

Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana di Indonesia hanya dirancang untuk perempuan yang telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum dibekali dengan kete-rampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja (Iskandar, 1997).

Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada, pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak direncanakan. Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pelayanan itu ada. Di samping itu, terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja (Outlook, 2000).

Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan yang mengutamakan privacy dan confidentiality (Senderowitz, 1997a:10). Hal ini menjadi penyulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas dalam upaya perbaikan kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien

Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja


BAB I

PENDAHULUAN



    LATAR BELAKANG



Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tidak dikehendaki, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, serta semua bentuk kekerasan dan pemaksaan seksual.



Masa remaja adalah masa transisi antara kanak-kanak dengan dewasa dan realtif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis.



Di negara-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah. Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum-minuman berakohol, penyalangunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar remaja atau tawuran. Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berprilaku seksual yang beresiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.Untuk itu pendekatan kesehatan reproduksi remaja perlu mendapat perhatian yang sangat serius karena pada dasarnya secara biologis siap untuk berproduksi.





B.     PERMASALAHAN



Perkembangan reproduksi remaja erkait erat dengan perkembangan seksualnya. Sebagian remaja tidak mengalami masalah dalam perkembangan seksualnya, tapi tidak sedikit dari mereka karena proses tersebut kehidupan mereka di hari tua menjadi kurang menguntungkan.Saat ini sebagian besar kaum remaja lebih berani mengambil risiko yang mengancam kesehatan reproduksinya, tetapi mereka tidak mengetahui banyak informasi mengenai apa itu kesehatan reproduksi.



Minimnya informasi kesehatan reproduksi remaja kerap menjadi salah satu persoalan yang membuat mereka salah dalam mengambil keputusan. Informasi kesehatan reproduksi (kespro) pada remaja harus ditingkatkan, agar kelompok kaum muda yang sedang tumbuh berkembang ini dapat memperoleh sumber informasi yang benar. Karenanya, semua remaja memerlukan dukungan dan perawatan selama masa transisi dari remaja menuju dewasa.





C.  RUMUSAN MASALAH



Minimnya informasi tentang kesehatan reproduksi remaja kerap terjadi penyalahgunaan fungsi seksual. Hanya mengejar kenikmatan sesaat, tidak sedikit dari mereka berani melakukan hubungan seksual. Tidak heran jika kini banyak permasalahan yang datang menyertainya, termasuk semakin beragamnya penyakit menular seksual (PMS), kehamilan yang tidak dikehendaki (hamil diluar nikah) dan aborsi.Untuk itulah disini penulis mencoba memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja.















BAB II



PEMBAHASAN





A.     Pengertian Kesehatan Reproduksi Menurut BKKBN, 2000 :

Reproduksi adalah kemampuan untuk membuat kembali dan dalam kaitannya dengan kesehatan. Reproduksi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memperoleh keturunan atau proses melanjutkan keturunan.

Kesehatan Reproduksi adalah kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses reproduksi, (BKKBN, 2000).



B.      Definisi Remaja

Remaja adalah masa peralihan dari anak menjadi manusia dewasa secara fisik, mental maupun sosial. Kurun usia remaja sering disebut sebagai peralihan periode strum und drang, yaitu periode peralihan antara anak-anak dengan masa dewasa yang penuh gejolak. Gejolak ditimbulkan baik oleh fungsi sosial remaja dalam mempersiapkan diri menuju kedewasaan (mencari indetitas diri, meman tapkan posisi dalam masyarakat tersebut dsb.) maupun oleh pertumbuhan fisik (perkembangan tanda-tanda seksual sekunder, pertumbuhan tubuh yang tidak proporsional dsb.) dan perubahan emosi (lebih peka, lebih cepat marah, agresif dsb.) serta perkembangan inteligensinya (makin tajam bernalar, makin kritis dsb.) Kurun usia remaja ini berbeda-beda panjangnya dari waktu dan dari tempat-ke tempat. Di lingkungan masyarakat yang masih sederhana (baca: primitif) kurun usia remaja ini bisa sangat singkat. (beberapa hari sehingga 1-2 tahun, karena begitu anak menunjukkan tanda-tanda akil balig, dilakukan upacara inisiasi tertentu dan setelah itu, anak itu langsung berstatus sosial dewasa (menikah bekerja, berburu, menjadi prajurit, diundang kenduri dsb.; wanitanya langsung hamil, mempunyai anak dan mengerjakan perkerjaan-pekerjaan rumah tangga).

Hal ini dimungkinkan karena di lingkungan masyarakat yang sederhana, persyaratan untuk menjadi dewasa pun tidak terlalu berat (cukup asal sudah bisa membantu ayah di sawah atau membantu ibu di dapur). Tatapi di kalangan masyarakat yang sudah lebih canggih (masyarakat modern, kalangan menengah ke atas) kurun usia remaja bisa lebih panjang, bisa mencapai belasan tahun (di Indonesia antara 11-24 tahun). Penyebabnya adalah makin awalnya tanda-tanda akil balig (karena gizi yang baik, rangsangan dari lingkungan dsb.) Sementara persyaratan untuk menjadi dewasa justru semakin berat (harus sekolah dulu, punya pekerjaan dulu dsb.), sehingga memerlukan waktu yang makin lama (usia rata-rata perkawinan meningkat dari usia 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria dalam UU Perkawinan 1974 sampai mendekati umur 26 tahun bagi wanita dan 30 tahun bagi lakilaki.

Dengan sendirinya, masa yang panjang antara tanda-tanda akil balig yang pertama sampai kematangan sosisal yang diharapkan (sehingga bisa menikah), akan menimbulkan peluang lebih besar bagi hubungan seks pranikah dengan segala akibatnya: kehamilan tanpa rencana, kawin muda, dikeluarkan dari sekolah, aborsi, anak luar nikah dan penyakti menular seksual, temasuk AIDS. Peluang ini lebih diperbesar lagi dengan meluasnya peredaran pornografi dan rangsangan seksual lainnya sehubungan dengan makin canggihnya teknologi media dan komunikasi massa (TV, Video tape, fax, film dsb.) serta tersedianya berbagai prasara dan sarana hiburan. Sebuah laporan dari Australia, misalnya menyebutkan tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak laki-laki berumur 5 tahun terhadap teman perempuannya. Para guru menyalahkan banyaknya tayangan film TV Amerika yang bertema kekerasan dan seks (Tepleton, 1998).

Remaja adalah tahap yang paling rentan dalam hal kesehatan reproduksi sepanjang perkembangan hidup manusia, maka perhatian yang lebih besar perlu diberikan justru pada tahap perkembangan ini. Selama ini remaja dianggap kelompok yang tabu untuk disentuh oleh informasi seks maupun pelayanan kesehatan reproduksi. Seakan-akan kalau tabu itu dilanggar akan terjadi pemakaian seluruh remaja dan pada gilirannya seluruh masyarakat. Padahal perilaku seksual yang tidak sesuai norma-norma agama dan sosial bukan berawal dari kelompok remaja, melainkan dari golongan dewasa3. Dengan demikian remaja adalah kelompok yang justru dilindungi dari ancaman tersebut.



Salah satu caranya adalah dengan memberi kekebalan kepada remaja itu sendiri berupa pendidikan seks. Pendidikan seks bukanlah sekedar penerangan tentang seks (atau hubungan seks), melainkan sebagaimana pendidikan lainnya (pendidikan agama, pendidikan pancasila) pendidikan seks juga mengandung nilai-nilai (baik buruk, benar salah) yang harus ditransformasikan kepada subyek didik. Nilai-nilai inilah (yang berorientasi pada agama, etika dan susila) yang akan mencegah perilaku seks yang tidak bertanggung jawab (bukan malah mendorongnya). Laporan statistik di AS (1989) misalnya menunjukkan bahwa di negara tersebut telah terjadi penurunan angka kelahiran di luar nikah di kalangan remaja kulit hitam sebanyak 20 % sejak tahun 1989. Hal ini disebabkan oleh karena para remaja, orang tua dan guru sudah semakin terbuka membicarakan tentang seks, sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan yang diperlukan (Edwards, 1998).

Penyampaian nilai-nilai tersebut harus proporsional dan profesional. Tidak boleh terlalu menggurui (menasihati) yang sering dianggap menyebalkan oleh para remaja, juga tidak boleh terlalu amatiran (sehingga asal memberi jawaban saja walaupun salah). Pendidikan seks harus disampaikan secara bersahabat (sebagai teman) dan sekaligus berbobot (berisi informasi yang tepat dan benar). Oleh karena itulah penulis, melalui PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) mengajukan gagasan hot-line service "Sahabat Remaja" yang dioperasikan pada tahun 1982-1986 di berbagai cabang PKBI (Jakarta, Medan, Bandung,Yogyakarta, Surabaya, dan Kupang). Dengan bantuan dana dari UNFPA (United Nation Funds for Populatian Activities) dan IPPF (International Planned Parenthood Association). Model pelayanan KIE (konsultasi, informasi dan edukasi) "Sahabat Remaja" ini kemudian diadopsi oleh organisasi lain baik oleh yang di dalam PKBI ("Centra Mitra Muda") maupun di luar PKBI. Bahkan "Sahabat Remaja" dalam bentuknya yang asli masih dilanjutkan sebagai proyek PKBI Yogyakarta sampai saat ini.

Di samping pelayanan untuk perorangan yang membutuhkan melalui hot line service, perlu juga diselenggarakan program pemberian informasi kepada remaja umum (bahkan anak-anak) yang sebagian besar belum beraktivitas seksual. Informasi ini harus diberikan juga dengan cara yang baik dan benar4. (King 1998). Sulitnya kriteria baik dan benar untuk remaja umum ini sangat terkait dengan lingkungan budaya masing-masing. Perbedaan suku, perbedaan agama, perbedaan lokasi, perbedaan waktu, bahkan perbedaan kampung dan keluarga bisa menyebabkan perbedaan kriteria baik-buruk dan benar salah. Oleh karena itu sulit untuk menyusun kurikulum pendidikan seks untuk pendidikan formal di sekolah (yang harus seragam di seluruh Nusantara). Di pihak lain, juga sulit untuk menyerahkan pendidikan seks ini kepada orang tua sendiri tentang informasi seks, juga karena sikap menabukan seks yang masih kental kalangan orang tua. Karena itu sebaiknya informasi tentang seks kepada remaja umum diberikan oleh profesional (dokter, psikolog, guru, rohaniwan dsb.) yang terlatih dalam bentuk kegiatan ektrakurikuler atau ceramah-ceramah umum atau melalui media massa yang disesuaikan dengan konteks lingkungan setempat (budaya, tingkat pendidikan, pergaulan, agama, dsb.).

Selanjutnya, bagi remaja yang sudah beraktivitas seksual perlu diberikan perlakuan yang berbeda dari remaja umum. Sebagian dari yang beraktivitas seksual ini tidak memerlukan bantuan khusus karena mereka sudah mengetahui cara-cara untuk menjaga dirinya sendiri, akan tetapi sebagian lainnya melakukan aktivitas seks dengan pengetahuan yang sangat terbatas5 sehingga seringkali melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya bahkan ada yang sudah melakukan hubungan seks pranikah, misalnya tidak menggunakan kondom, hanya merasa rugi jika ia memakainya ( walaupun ia tahu bahayanya jika ia tidak memakainya) (Kuswardani, 1998). Bahkan remaja yang mempunyai sikap positif sekalipun terhadap kondom, tidak mempunyai intensi (niat) untuk memakainya dalam hubungan seks pranikah (Julprima, 1991). Pada umumnya remaja (khususnya remaja putri) yang mengalami dampak yang tidak dikehendaki dari perilaku seksnya sendiri (kebanyakan hamil diluar nikah atau ditinggalkan pacarnya setelah hubungan seks) tidak tahu harus berbuat apa karena lingkungan menyalahkannya, bahkan memusuhinya; orang tua cenderung marah dan kalau ketahuan oleh sekolahnya bisa dikeluarkan dari sekolah. Dalam keadaan ini remaja yang bersangkutan bisa mengambil jalan pintas seperti menggugurkan kandungannya (seringkali ke orang-orang yang tidak ber-tanggung jawab karena biayanya yang murah) atau bagi yang dikecewakan pa-carnya, bisa membenci semua lakilaki dan tidak berani menikah seumur hidupnya (sejumlah kecil kasus beralih preferensi seksual menjadi homoseksual).

Untuk mengurangi dampak yang makin negatif itu, diperlukan perubahan sikap dari masyarakat (terutama dari pihak orang tua dan pendidik) terhadap para korban penyalahgunaan seks. Para korban penyalahgunaan seks ini berada dalam posisi yang sangat membutuhkan pertolongan, sementara yang paling bisa memberi pertolongan pertama adalah pihak keluarga dan lingkungan sekolahnya. Tanpa mengingkari kenyataan bahwa anaknya hamil pranikah, namun kejutan ini hendaknya segera diredam dan menggantikan dengan sikap positif yang penuh dengan pengertian, memaafkan dan bersedia memberi bantuan sepenuhnya.

 Demikian pula pihak sekolah perlu bersikap melindungi pada korban-korban penyalahgunaan seks ini dan bukan malah mengucilkannya.



AKSES YANG DIBATASI



Selama kurun waktu yang cukup panjang ini, remaja (khususnya yang tinggal di kota besar dan yang berlatar belakang kelas sosial ekonomi menengah ke atas) memerlukan akses kepada sumber-sumber informasi tentang seks, bahkan juga pelayanan kesehatan reproduksi. Masalahnya adalah bahwa remaja yang secara sosial dianggap belum dewasa ini, secara fisik-fisiologik sudah matang sehingga alat-alat reproduksi dan dorongan seksnya (libido) juga sudah berfungsi penuh. Jika fungsi-fungsi reproduksi ini tidak disalurkan sebagai mana mestinya (misalnya melalui perkawinan) sudah barang tentu akan terjadi ekses (hubungan seks pranikah) kecuali jika mereka segera menikah atau jika mereka mempunyai kendali diri yang besar. Oleh karena pernikahan pada usia sekolah dan kuliah cenderung dianggap negatif (misalnya: pelajar yang ketahuan sudah menikah langsung dikeluarkan dari sekolah), maka tidak ada pilihhan lain bagi remaja untuk menghindari ekses dari dorongan seksnya tsb., kecuali dengan cara mengendalikan diri.



Tetapi dalam kenyataannya, tidak semua remaja mempunyai kendali diri yang cukup besar. Walaupun dibandingkan dengan dengan negara lain, persentase hubungan seks pranikah di kalangan remaja Indonesia masih tergolong kecil (penelitian di Indonesia menunjukan angka 1-25% sementara di berbagai negara lain bisa mencapai 40-70%1) (Population Report, 1985 dalam Sarwono, 1991), namun tetap saja untuk persentase yang kecil itu perlu diupayakan pelayanan khsusus untuk mencegah mereka tertular penyakit seksual (termasuk AIDS) dan mengalami kehamilan yang tidak direncanakan.

Tetapi pelayanan seperti itu justru sulit diperoleh di Indonesia (termasuk di Jakarta) sehubungan dengan adanya anggapan bahwa informasi tentang seks dan pelayanan kontrasepsi hanya diperuntukan bagi yang sudah menikah, sementara bagi yang belum menikah ditabukan. Pendidikan seks, misalnya sering dianggap justru akan merang sang remaja untuk melakukan perilaku seks sebelum saatnya, sementara pemberian kondom (dan kontrasepsi lainnya) kepada remaja yang sudah aktif secara seksual (bahkan juga kepada wanita tuna susila), dianggap mensahkan atau membenarkan hubungan seks yang tidak halal. Akibatnya adalah bahwa remaja terisolasi dari informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, justru pada saat-saat yang paling rawan, sehingga tidak mengherankan jika angka penyakit menular seksual dan kehamilan remaja makin meningkat di kalangan kelompok ini.

Kendala yang menyebabkan sulit sekali bagi remaja untuk mengakses informasi tentang seks dan pelayanan kesehatan reproduksi adalah faktor agama, adat dan tradisi. Dalam alam pikiran (kognisi) sebagian besar masyarakat, masih belum dapat dipisahkan dari faktor agama dan susila di satu pihak dengan faktor kesehatan di pihak lainnya. Pendidikan seks dan pelayanan kesehatan reproduksi yang asas dan tujuannya adalah kesehatan (mental dan fisik) terus-menerus dinilai negatif karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai iman dan takwa yang dasar dan tujuannya adalah agama dan kesusilaan.

Pelayanan kesehatan reproduksi:



            Pelayanan kesehatan reproduksi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan perempuan dan laki-laki berhubungan dengan masalah seksualitas dan penjarangan kehamilan. Komponen yang termasuk didalam kesehatan  reproduksi adalah:

1.Konseling tentang seksualitas, kehamilan, alat kontrasepsi, aborsi, infertilitas, infeksi dan penyakit.

2.Pendidikan seksualitas dan jender.

3.Pencegah, skrining dan pengaobatan infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS dan masalah kebidanan lainnya.

4.Pemberian informasi yang benar sehingga secara sukarela memilih alat kontrasepsi yang ada.

5.Pencegahan dan pengobatan infertilitas.

6.Pelayanan aborsi yang aman.

7.Pelayanan kehamilan, persalinan oleh tenaaga kesehatan, pelayanan pasca kelahiran.

8.Pelayanan kesehatan untuk bayi dan anak-anak.











Pendidikan Kesehatan Reproduksi:

Kespro bagi remaja hingga kini masih sulit masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Padahal, masalah seks di kalangan remaja saat ini telah menjadi problem yang sangat serius. ''Family life education atau pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja memang penting untuk pendidikan remaja.

Permasalahan Kesehatan Reproduksi

Minimnya informasi kesehatan reproduksi remaja kerap terjadi penyalahgunaan fungsi seksual. Hanya mengejar kenikmatan sesaat, tidak sedikit dari mereka berani melakukan hubungan seksual. Tidak heran jika kini banyak permasalahan yang datang menyertainya, termasuk semakin beragamnya penyakit menular seksual (PMS) dan aborsi.

Sumber Masalah Kesehatan Reproduksi

1. Seks dengan sembarang orang

2. Seks tanpa alat pengaman (kondom)

3. Melakukan hubungan seksual saat perempuan sedang haid

4. Seks tidak normal, misalnya seks anal (melalui dubur)

5. Oral seks dengan penderita gonore, menyebabkan faringitis gonore (gonore pada kerongkongan)

6. Seks pada usia terlalu muda, bisa mengakibatkan kanker serviks

7. Perilaku hidup tidak sehat dapat mendatangkan penyakit (tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes melitus) yang dapat memicu disfungsi ereksi (DE)

8. Kehidupan seks menimbulkan trauma psikologis juga faktor pemicu DE



Beberapa Penyakit Menular Seksual

1. Gonore (Kencing Nanah)

- Tanda-tanda: Nyeri, bengkak, merah, bernanah.

- Pada laki-laki: Sakit pada saat kencing, keluar nanah kental kuning kehijauan, ujung penis merah dan bengkak.

- Pada perempuan: 60% tidak menunjukkan gejala, misalnya keputihan kental kekuningan dan sakit saat kencing.

- Akibat: Pada laki-laki dan perempuan bisa menyebabkan kemandulan.

- Akibat: Pada perempuan menyebabkan radang panggul, dan dapat diturunkan pada bayi melalui infeksi pada mata, yang dapat menyebabkan kebutaan.

2. Sifilis (Raja Singa)

- Tanda-tanda : pusing, nyeri tulang seperti flu, bercak kemerahan ada tubuh sekitar 6-12 minggu setelah hubungan seks.

- Akibat: Setelah 5-10 tahun, sifilis akan menyerang susunan saraf otak, pembuluh darah, dan jantung. Pada perempuan hamil sifilis dapat ditularkan kepada bayi yang dikandungnya dan bisa lahir dengan kerusakan kulit, hati, limpa, dan keterbelakangan mental.

3. Herpes Genital

- Tanda-tanda: Bintil-bintil berair (berkelompok seperti anggur) yang sangat nyeri pada sekitar alat kelamin. Kemudian pecah dan meninggalkan luka yang kering mengerak, lalu hilang sendiri. Gejala kambuh lagi seperti di atas namun tidak senyeri tahap awal bila ada faktor pencetus (stres, haid, minuman/makanan beralkohol) dan biasanya menetap hilang timbul seumur hidup.

- Akibat: Pada perempuan, sering kali menjadi kanker mulut rahim beberapa tahun kemudian.

4. Klamidia

- Tanda-tanda: Pada perempuan keluarnya cairan dari alat kelamin atau 'keputihan encer' berwarna putih kekuningan, rasa nyeri di rongga panggul, perdarahan setelah hubungan seksual. Pada laki-laki rasa nyeri saat kencing keluar cairan bening dari saluran kencing bila ada infeksi lebih lanjut, cairan semakin sering keluar dan bercampur darah.

- Akibat: cacatnya saluran telur dan kemandulan, radang saluran kencing, robeknya saluran ketuban sehingga terjadi kelahiran bayi sebelum waktunya (prematur). Pada laki-laki akibatnya adalah rusaknya saluran air mani dan mengakibatkan kemandulan, serta radang saluran kencing.

5. HIV/AIDS

- Tanda-tanda: 3-4 tahun penderita tidak memperlihatkan gejala yang khas. Sesudahnya, tahun ke-5 atau 6 mulai timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut, dan terjadi pembengkakan di daerah kelenjar getah bening.

-Akibat: Penurunan daya tahan tubuh secara terus-menerus, sehingga dapat menyebabkan kematian.





Untuk menghindari penyakit-penyakit yang tidak diinginkan, kita haruslah menjaga kesehatan reproduksi kita karena ini sangat penting dan tidak boleh dianggap sepele. Karena pelayanan kesehatan yang terkait dengan kesehatan reproduksi sering diabaikan. Bukan hanya terhadap perempuan tetapi juga terhadap laki-laki dan lebih khusus lagi di kalangan remaja.

Kesadaran terhadap kesehatan reproduksipun ternyata masih rendah. Selain karena biaya untuk berobat yang dinilai mahal juga kekhawatiran identitas akan dibeberkan. Ada pula yang lebih ironis yaitu alasan mendasar yang membuat mereka jarang bahkan tidak pernah memperhatikan kesehatan reproduksi karena mereka tidak mengetahui sama sekali apa yang harus diperiksa dan ke mana mereka dapat memeriksa kesehatan reproduksi.

Bahaya Aborsi bagi Remaja

Aborsi yang dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu, menggunakan obat-obatan ataupun tindakan medik, dinilai berbahaya. Apalagi, jika aborsi terjadi pada remaja putri berusia 15-19 tahun. Usia 19 tahun tidak menjamin kesehatan secara fisik, mental, maupun sosial untuk proses reproduksi. Karena itu, aborsi yang disengaja pada remaja putri lebih berisiko dibanding perbuatan sama yang dilakukan perempuan berusia lebih tua.

Kehamilan pada remaja sering berakhir dengan aborsi, karena memang bayi yang dikandung itu tak diinginkan kehadirannya. Komplikasi aborsi berupa robeknya rahim dan kelainan pada pembekuan darah, dimungkinkan terjadi saat remaja putri mendapatkannya tidak aman karena sarana pelayanannya ilegal. Komplikasi yang muncul bukan saja dialami ibu muda, juga menimpa janin atau bayinya, sehingga meningkatkan angka penderita maupun kematian pada keduanya.



Tips Menjaga Kesehatan Reproduksi

1. Jika belum menikah, jangan melakukan hubungan seksual dahulu.

2. Setia dengan satu pasangan seksual yang sah.

3. Jangan tertipu dengan penampilan. Orang yang terlihat bersih dan resik belum tentu bebas PMS.

4. Gunakan kondom, terutama jika berhubungan dengan kelompok berisiko tinggi, misalnya pekerja seks komersial.

5. Selalu bersihkan alat kelamin sebelum dan sesudah berhubungan seksual.

7. Jika pasangan seks terkena PMS, keduanya harus menjalani pengobatan. (MI/OL).

Akhirnya, untuk remaja yang sudah beraktivitas seks namun belum mempunyai pengetahuan seks yang cukup untuk menjaga dirinya sendiri, perlu diberikan bekal pendidikan seks yang materinya lebih banyak berupa kiat-kiat untuk berperilaku seks yang aman dan sehat. Materi ini tentu sangat berbeda dari pendidikan seks untuk remaja umum karena sasarannya juga berbeda. Oleh karena perilaku seksual mereka bukan karena alasan agama (Sarwono 1998) maka juga tidak realistik jika mereka diharapkan menghentikan aktivitas seksualnya melalui pendidikan agama. Bagi mereka berlaku dalil bahwa perilaku seks yang tidak sesuai dengan norma agama dan susila tetap bisa dijaga keamanannya dengan cara berperilaku seksual yang sehat. Tentu saja ini memerlukan perubahan sikap dari masyarakat (termasuk tokoh-tokoh agama) agar menyelamatkan para remaja yang sudah beraktivitas seks ini tidak banyak mengalami hambatan sehingga akhirnya justru dampak yang tidak diharapkan (kehamilah pranikah, aborsi, penyakit menular seksual, AIDS) makin meningkat







DAFTAR PUSTAKA



* Edwards, T.M. 1998: The opposite sex,Time 13 Juli

    * Julprima H, 1991: Sikap, norma subyektif dan intensi remaja terhadap penggunaan kondom dalam hubungan seks pranikah, skripsi, Jakarta Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    * King R. 1998: Keep your children safe, The weekend Australian, 10-11 Oktober

    * Kuswandari, A.N. 1998: Penggunaan Kondom pada pria dewasa muda ditinjau dari Health belief Model. skripsi, Jakarta Fakultas Universitas Indonesia

    * Penjol I. 1990: Konsep diri dan perilaku hubungan seks pramarital pada remaja, skripsi, Jakarta Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    * Sarwono, W.S. 1991: Psikologi remaja, Jakarta Rajawali. Sarwono, S.W. 1998: Aborsi, AIDS dan Kondom, Kompas 3 Januari

    * Sutadi, S.R.L. 1985: Hubungan antara pendidikan seks dan sikap serba boleh dalam pe rilaku seksual sebelum pernikahan di kalangan remaja siswa sebuah SMA Jakarta skripsi, Jakarta Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    * Templeton, R.1998: Sex pest aged five, The Sunday Mail,Qeenland , Australia, 18 Oktober

    * Tuapattinaja, J.M.R. 1983: FIRO-B dan Hubungan seks sebelum perkawinan, skripsi Jakarta Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    * Yofita, 1998: Faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya hubungan seksual di luar nikah dalam ikatan perkawinan pada wanita di Jakarta, skripsi Jakarta Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    * Zainuddin, R.M. 1998: Atribusi kausal affair (suatu penelitian di kalangan wanita lajang di Jakarta ), skripsi Jakarta Fakultas Psikologi Universtas Indonesia.



Sumber : http://www.bkkbn.go.id

kti personal hygiene alat reproduksi

KARYA TULIS ILMIAH  (KTI)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
      Perawatan kesehatan dan kebersihan adalah hal yang banyak dibicarakan dalam masyarakat. Biasanya hal ini diajarkan oleh orangtua sejak kita masih kecil. Tetapi  karena orangtua sering kali tidak merasa nyaman membicarakan masalah pendidikan seksual  biasanya masalah kesehatan dan kebersihan yang dibicarakan hanya menyangkut hal yang umum saja, sedangkan urusan kesehatan organ reproduksi jarang kita dapatkan dari mereka (Sarwono, 2006: 115). Menurut WHO dan beberapa badan dunia lainnya tahun 1998, menghimbau semua Negara Asia Tenggara agar memberikan komitmennya untuk memperhatikan dan melindungi kebutuhan remaja akan informasi, keterampilan, pelayanan dan lingkungan yang umum dan kesehatan reproduksi remaja. (Soetjiningsih, ).

            Di dunia, angka kejadian akibat infeksi alat reproduksi diperkirakan sekitar 2,3 juta pertahun 1,2 juta diantaranya ditemukan dinegara berkembang, sedangkan jumlah penderita baru sekitar 5 juta pertahun dan terdapat di negara berkembang sekitar 3 juta (Berman, 2009 : 327). Kesehatan reproduksi merupakan bagian paling penting dari program kesehatan, mengingat pengaruhnya terhadap setiap orang dan mencakup banyak aspek kehidupan, sejak dalam kandungan sampai usia lanjut.
1
     Di Indonesia pelayanan kesehatan reproduksi mencakup 4 komponen esensial yang mampu memberikan hasil yang efektif dan efisien. Adapun 4 komponen antara lain Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE) yaitu Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir,Keluarga Berencana, Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan  pencegahan atau penanggulangan penyakit menular seksual (PMS) temasuk HIV/AIDS. (Bobak, 2004 : 827) Beberapa penyakit ginekologi dan gangguan kesehatan reproduksi perempuan merupakan suatu masalah serius dalam masyarakat seperti kemandulan, keputihan, dan kanker rahim. Di negara maju insiden terjadinya infeksi 87 per 100.000  angka kematiannya kira – kira 27 per 100.000 (Andira, 2010:75). Data terbaru berdasarkan penelitian pada 13 laboratorium patologi anatomi di Indonesia menempatkan kanker serviks diurutan pertama dengan perevaluasi 18,62 % disusul kanker payudara 11,22 % dan kanker kulit menurunkan resiko kehamilan dan pengguguran yang tidak aman, menurunkan penularan IMS/HIV–AIDS, memberikan informasi kontrasepsi dan konseling untuk mengambil keputusan sendiri tentang kesehatan reproduksi. (Soetjiningsih, ).
     Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak – kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukan ke dalam kelompok remaja. Remaja adalah masa transisi antara masa kanak – kanak dan dewasa, dimana terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif. Untuk tercapainya tumbuh kembang yang biologik seorang remaja merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan Biofisikopsikososial. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda - beda. (Soetjiningsih, ).
     Selama perkembangan menuju dewasa, tubuh berkembang secara terus menerus. Keseluruhan frekuensi perubahan terjadi dengan cepat sebelum lahir, selama masa bayi, dan saat pubertas. (Cristiana, 2004). Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berusia 10 – 19 tahun. Sekitar 900 juta berada di Negara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukan jumlah remaja berumur 10 – 19 tahun. Sekitar 15 % populasi di Asia Pasifik dimana penduduk merupakan 60 % dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10 – 19 tahun. Menurut Dinkes Jabar tahun 2008 kelompok remaja putri umur 10 – 19 tahun adalah 4. 037. 410 jiwa (Dinkes, 2008)
     Setelah melakukan survey pada tanggal 05 juli 2010, Di dapat dengan jumlah seluruh siswa .................  yaitu 424 diantaranya siswa remaja putra 217 dan jumlah remaja putri 207 yang terdiri dari 7 kelas.
     Menurut survey yang dilakukan dengan mewawancarai 20 siswi ..................... hanya 2 yang mengetahui tentang personal hygiene alat reproduksi dan sisanya (18) siswa sama sekali tidak mengetahui tentang personal hygiene alat reproduksi yang berarti di SMP Negeri 1 Cidadap masih kurangnya pengetahuan siswi tentang personal hygiene alat reproduksi.
Berdasarkan dari latar belakang masalah diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti “ Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Personal Hygiene Alat Reproduksi di S................

B.     Rumusan Masalah
     Dari latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana pengetahuan mengenai personal hygiene alat reproduksi  pada remaja putri ...............”.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene alat reproduksi di .........
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui apakah remaja putri di .............. tahu tentang definisi  personal hygiene.
b.      Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri di ..................... tentang manfaat personal hygiene alat reproduksi tahun 2010.
c.        Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri di ....................... tentang tujuan personal hygiene alat reproduksi tahun 2010.
d.      Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri tentang organ reproduksi wanita.
e.       Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri tentang perawatan kebersihan vagina.
f.       Untuk mengetahui dampak tidak melakukan personal personal hygiene yang baik pada remaja.