Blogger Widgets ADE COPA GABANA PARFUM PARIS MODE: Mengenai Sains

Rabu, 05 Oktober 2011

Mengenai Sains


Sains
Adopsi yang kurang dapat dipertanggungjawabkan
By: Ade Rama Kamanjaya
POLTEKKES KEMENKES MALANG KAMPUS 2

Untuk keluar dari kebingunan semantik yang melanda terminologi ilmu pengetahuan, maka diperkenalkan kata “sains” yang dipinjam dari bahasa inggris yakni science. Bahkan kata “sains” telah digunakan dalam beberapa hal yang secara sah seperti dalam gelar Magister Sains. Dalam struktur bahasa Indonesia pembentukan kata sifat dengan kata dasar sains agak janggal. Hal tersebut dapat kitalihat sepertidalam kata Scientific, sekiranya sains adalah sionim dengan science, adalah ke-sains-an atau saintifik dan Scientist adala sains-wan atau saintis.
Terminologi science dalam bahasa asal penggunaannya sering dikaitkan dengan natural science seperti teknik. Economis, sering dikonotasikanbkan science, namun social studies, termasuk kedalamnya social science lainnya. Dengan demikian maka terminologi science sering dikaitkan dengan teknologi. Hal ini, meskipun tidak disengaja dan mungkin tidak disadari, menibulkan jurag antara ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam. Sederhananya adalah bahwa ilmu-ilmu sosial bukanlah science, atau paling tidak preferensi utama penggunaan kata science adalah untuk ilmu-ilmu alam.
Pada dasarnya ilmu adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu kenyataan yang tersusun sistematis. Ilmu meupakan kegiatan berpikir untk mendapatkan pengetahuaun yang benar atau secara lebih sederhana, ilmu bertujuan untu mendapatkan kebenaran.
Kriteria kebenaran adalah jelas sebagaimana yang dicerminkan oleh karakteristik berpikir. Dua karalteristk ini merupakan asas moral bagi kaum ilmuwan yakni meninggikan kebenaran dan pengabdian secara universal.
Seorang ilmuwan terkenal C.P Show dalam bukunya sangat provokatif ”Two Cultures” mengingatkan negara-negara barat akan adanya dua pola kebudayaan dalam tubuh mereka yakni masyarakat ilmuwan dan masyarakat non ilmuwan yang menghambat kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi.
Hal ini juga diterapkan di negara kita dimana bidang-bidang keilmuan mengalami polarisasi dan membentuk kebudayaan sendiri. Polarisasi ini didasarkan pada kecenderungan beberapa kalangan tertentuuntuk memisahkan ilmu kedalam dua golongan yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Namun, jika kita menginginkan kemajuan dalam bidang keilmuan yang mencakup ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, maka dualisme kebudayaan harus dihilangkan. Jika sekiranya memang diperlukan pola-pola pendidikan yan berbeda, maka alternatifyang ditempuh adalah bukan lagi pembagian jurusan berdasarkan keilmuan, namun berdasarkan tujuan pendidikan matematika. Sebagaiaa kita ketahui tuuan tersebut adalah:
·        Mencakup penguasaan matematka secara teknis dan mendalam dalam rangka penalaran deduktif untuk menemukan kebenaran.
·        Penguasaan matematika sebagai alat komunikasi simbolik.
Pada tahap pendidikan yang tepat, maka seseorang diperkenankan untuk memilih jurusan berdasarkan bakat matematikanya. Pembagian jurusan semacam ini meningkatkan mutu keilmuan yang menekankan pada cara berpikir ilmiah dan membebaskan ilmu dari wabah verbalisme yang bertentangan dengan semangat dan hakikat keilmuan itu sendiri. Sehingga bagi mereka yang merindukan runtuhnya pagar yang membatasi ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial, maka adopsiterminologi sains ini berarti langkah mundur.
Bisa saja kita sebenarnya menggunakan ilmu pengetahuan untuk knowledge, sains untuk science, ilmiah atau keilmuan untuk scientific, namun kita tidak mengetahui dimana struktur dan logika bahasanya. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita menyimak pendapat Wittgenstein mengenai hal ini, yakni: ”Kebanyakan dari pernyataan dan pertanyaan yangtekandung dalam ilmu filsafat adalah tidak salah namun nonsensical. Konsekuensinya adalah bahwa kita tidak dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini, meainkan hanya memapu menunjukkan bahwa semua itu adalah nonsensical. Kebanyakan dari pernyataan dan pertanyaan dalam filsafat ditimbulkan oleh kegagalan kita untuk memahami logika dari bahasa kita sendiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar