Blogger Widgets ADE COPA GABANA PARFUM PARIS MODE: LAPORAN PENDAHULUAN REUMATIC HEART DISEASE

Kamis, 01 Desember 2011

LAPORAN PENDAHULUAN REUMATIC HEART DISEASE


LAPORAN PENDAHULUAN

REUMATIC HEART DISEASE


A.    Definisi:
RHD adalah penyakit radang yang timbul setelah infeksi streptococcus gol beta hemolitik group A

B.     Masalah kesehatan

Masalah keperawatan
a.       Gangguan rasa nyaman (nyeri)
b.      Kurangnya pemenuhan nutrisi.
c.       Ansietas.
d.      Intoleransi aktifitas.
e.       Kurang pengetahuan keluarga.
f.       Peningkatan suhu tubuh.
Masalah kolaborasi
A. Resiko terjadi komplikasi; gagal jantung.

C.    Pemeriksaan Diagnostik

1.      Ekokardiografi  à untuk mendiagnosis perikarditis
2.      Perikardiosintesis à untuk mendiagnosi perikarditis.
3.      Pemeriksaan foto thorak à untuk mendeteksi kardiomegali.
4.      EKG à blok atriaventrikuller ( AV ) dan pemanjangan segment PR terdapat pada karditis.
5.      Titer antistreptomisin O ( ASTO ) à meningkat
6.      Titer anti bodi antihialuronidase à meningkat bila ada antibodi streptococcus.
7.      NADase, anti NADase, dan anti anti DNAase B à meningkat bila ada anti bodi streptococcus.
8.      Streptozim à sebuah uji antibodi streptococcus dapat dilakukan sebagai ganti titer ASO
9.      LED meningkat karena adanya peradngan.
10.  Protein C-reaktif à meningkat pada peradangan.
11.  Kultur tenggorokan à untuk mendiagnosis streptococcus.
12.  Jumlah leukosit à meningkat pada infeksi



D.    Diagnosa Keperawatan:
1.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan atralgia.
2.    Kurang pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia.
3.    Perubahan emosi/ psikososial behubungan dengan imobilisasi fisik ( tirah baring) dan pelaksanaan prosedur terapi.
4.    Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan otot.
5.    Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi tentang RHD
6.    Peningkatan suhu tubuh ( hipertermi) berhubungan dengan proses peradangan.
7.    Resiko tinggi terjadi komplikasi: gagal jantung berhubungan dengan kerusajkan katub menetap.
E.     Intervensi Keperawatan.
1.      Diagnosis Keperawatan 1 : Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan atralgia.
Intervensi :
a.    berikan alas yang lunak ( bantal yang lembek atau handuk yang berlipat-lipat ) pada daerah yang terasa nyeri.
b.    Hindari sentuhan pada daerah yang sakit.
c.    Letakkan tempat tidur klien di pinggir/ di pojok ruangan untuk menghindari tersenggol orang lain.
d.   Hindari penggunaan kompres hangat pada daerah yang sakit.
e.    Kaji tingkat nyeri klien secara kontinu.
f.     Ajarkan tehnik distraksi selama nyeri.
g.    Atur posisi senyaman mungkin.
h.    Pertahankan posisi tubuh yang tepat.
i.      Kolaborasi analgesik.
2.      Diagnosis keperawatan 2 : Kurang pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia.
Intervensi :
a.    Hidangkan makanan semenarik mungkin dan sajikan dalam keadaan hangat.
b.    Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
c.    Usahakan jenis makanan bervariasi tetapi tetap berkualitas gizi baik
d.   Suapi pasien bila perlu.
e.    Beri diet lunak, rendah garam di tambah sayuran yang berserat pada pasien dengan gagal jantung.
f.     Beri penjelasan pada pasien pentingnya makanan untuk kesembuhannya.
g.    Timbang berat badan klien 1 x seminggu, dan setiap hari pada pasien gagal jantung.
h.    Beritahukan dokter bila beberapa kali ditimbang berat badan klien tidak meningkat.
3.      Diagnosis keperawatan 3 :Perubahan emosi kecemasan  behubungan dengan imobilisasi fisik ( tirah baring) dan pelaksanaan prosedur terapi.
Intervensi :
a.         Kaji tingkat kecemasan klien dan keluarga.
b.        Anjurkan anak dan keluarga mengekspresikan perasaannya.
c.         Anjurkan orang tua lebih memberikan perhatian kepada anaknya.
d.        Anjurkan kelaurga agar tidak mengeluh disepan anaknya.
e.         Berikan kesibukan pada klien, kesibukan yang tidak membahayakan jantungnya seperti: membaca, menggambar.
f.         Anjurkan klien untuk berbagi rasa tidak berdaya, malu dan ketakutan  yang berkaitan dengan dengan manifestasi penyakit ( misal: korea, karditis dan kelemahan otot)
g.        Lakukan pendekatan dahulu pada pasien sebelum memberi tindakan.
h.        Beri penjelasan tentang tindakan medis yang akan dilakukan.
i.          Beri dorongan agar pasien tidak takut dan tenang.
j.          Ajaklah klien untuk ikut terlibat dalam pelaksanaan tindakan, seperti perlihatkan kenaikan air raksa saat dilakukan pengukuran tekanan darah.
k.        Bila perlu beri obat penenang ( kolaborasi dengan medis)
4.      Diagnosis keperawatan 4 : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan otot.
Intervensi :
a.     Bantu ADL sesuai dengan kebutuhan.
b.    Hemat pengguanaan energi pada anak selama fase akut penyakitnya.
ü    Pertahankan tirah baring sampai hasil laboratorium dan status klinis membaik.
ü    Sejalan dengan semakin baiknya keadaan, pantau peningkatan bertahap pada tingkat aktivitas.
c.     Lakukan tindakan yang sesuai dengan usia.
5.      Diagnosa keperawatan 5 : Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi tentang RHD
Intervensi :
a.    Beri penyuluhan pada keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
b.    Anjurkan keluarga agar segera membawa anaknya berobat ke puskesmas bila anaknya demam.
c.    Beri informasi kepada keluarga tentang perlunya anak meminum obat antibiotik yang diberikan sampai habis.
d.   Beri informasi tentang carta perawatan anak selama di rumah meliputi cukup gizi, cukup istirahat, minum obat secara teratur.
e.    Jelaskan pada keluarga  bahwa RHD memerlukan  pengobatan yang lama dan perlu kontrol teratur pada dokter.

6.      Diagnosa keperawatan 6 : Peningkatan suhu tubuh ( hipertermi) berhubungan dengan proses peradangan.
Intervensi :
a.    Ukur tanda-tanda vital terutama suhu dan catat hasilnya.
b.    Beri kompres hangat / dingin.
c.    Ajarkan klien pentingnya mempertahankan masukan cairan yang adekwat sesuai kondisi.
d.   Pantau intake dan output.
e.    Jelaskan perlunya penggunaan pakaian yang longgar.
f.     Kolaborasikan pemberian antipiretik bila diperlukan.
7.      Diagnosa keperawatan  7: Resiko tinggi terjadi komplikasi: gagal jantung berhubungan dengan kerusakan katub menetap.
Intervensi :
a.     Berikan selimut hangat tapi tidak tebal.
b.    Jangan memandikan klien terlalu pagi / sore agar pasien tidak kedinginan.
c.     Kolaborasikan dalam pemberian obat digitalis.
d.    Monitor efek samping pemberian obat digitalis.
e.     Pertahankan cara kerja septik antiseptik.


Daftar Pustaka

Carpenito L.J, 1997, Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 6, Jakarta: EGC

Fakultas Kedokteran UI, 2000, Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid 2, Jakarta: Medi Aesculapius.

Mayer M, dkk, 1995, Pediatric Nursing, Singapure, McGraw – Hill Clinical Care Plans.

Nelson, 1990, Ilmu Kesehatan Anak bagian 1, Jakarta: EGC

Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Jakarta: EGC

Staf pengajar IKA FK UI, 2001, Ilmu Kesehatan Anak bagian 3, Jakarta: Bagian IKA FK UI

Tucker, dkk, 1998, Standar Perawatan Pasien edisi V volume 4, Jakarta: EGC


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar